Sabtu, 19 Desember 2009

Pengalaman Si Guru Desa


INTEGRATION ICT IN EDUCATION

Indonesian
Experiences

Prof. Dr. Ir. Dodi Nandika-- Sekjen Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas)

Disampaikan dalam:

INTERNATIONAL SYMPOSIUM OPEN, DISTANCE AND E-LEARNING
(ISODEL) 2009

Sekilas Tentang:

Prof. Dodi

ini mengaku banyak mendapat berkah dari rayap. Lewat serangga yang besaran tubuhnya hanya 3 milimeter itu, Prof Dodi tidak saja mendapat limpahan materi, tetapi juga nama besarnya. Bahkan, laboratorium rayap yang dikembangkan selama 25 tahun masa karirnya di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) itu sekarang telah menjadi pusat rujukan antar perguruan tinggi.

"Laboratorium rayap yang saya kembangkan itu telah banyak dipergunakan oleh mahasiswa bukan saja dari IPB, tetapi juga perguruan tinggi lain. Bahkan, kami juga kerap mendapat order dari sejumlah perusahaan anti-serangga untuk uji produk. Sehingga laboratorium bisa membiayai sendiri kegiatan penelitian yang kita lakukan," kata Prof Dodi Nandika dalam percakapannya dengan Suara Karya di ruang kerjanya di Kantor Depdiknas, Jakarta, Kamis (13/10).

Pengalaman menarik selama beternak rayap adalah membuat aneka penganan dari rayap. Bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Gizi Pangan IPB dan mahasiswa bimbingannya, Prof Dodi pernah melakukan uji coba pembuatan aneka penganan seperti kerupuk, rempeyek, permen, jelly dan cokkies dari rayap. Penganan itu terasa istimewa karena kandungan gizinya yang lebih tinggi dibanding kedelai.

"Hampir seluruh mahasiswa yang diminta untuk mencoba penganan itu tidak menolak rasanya. Mereka tidak tahu kalau penganan itu dibuat dari rayap. Saat dibuat kerupuk rasanya tidak jauh dibandingkan dengan kerupuk ikan belida dari Palembang. Hanya saja warnanya yang agak kehitaman sehingga kurang menggoda selera," katanya sambil tertawa berderai.

Karena itu, Prof Dodi melihat peluang yang cukup besar bagi rayap untuk dibudidayakan secara ekonomis. Karena dari segi mutu, kerenyahan, tekstur, kembang susut, gizi maupun ketengikannya tidak kalah dibandingkan dengan penganan dari ikan. Rayap yang dipergunakan adalah jenis kayu basah yang bentuknya besar dan gemuk.

"Teknologi yang dipakai sederhana yaitu menggunakan teknik isolasi yang memisahkan protein dan bahan bergizi lainnya dari "sampah" sehingga bahan yang kita pergunakan benar-benar tidak mengandung unsur yang berbahaya," ucap Prof Dodi yang menyayangkan penemuan yang cukup berharga itu ternyata belum direspon kalangan industri.

Begitu dinamisnya kegiatan di laboratorium rayap membuat Prof Dodi Nandika selalu kangen untuk meluncur ke sana. Namun, hal itu baru bisa dilakukannya pada hari Sabtu. "Begitu ada waktu luang di hari Sabtu, biasanya saya langsung meluncur ke lab saya di kampus IPB di Jalan Darmaga. Saya kangen dengan celoteh mahasiswa-mahasiswa saya yang biasanya banyak informasi terbaru soal rayap," ujar pria kelahiran Rangkasbitung, Banten, 7 Desember 1951 itu.

Prof Dodi mengungkapkan, dirinya dalam beberapa bulan terakhir ini hampir tidak sempat lagi berkunjung ke "rumah" keduanya, kampus IPB. Maklum, jabatannya sebagai orang nomor dua di Depdiknas yang banyak terkait dengan birokrasi sangat berlawanan dengan jiwa penelitinya yang cenderung bebas. Kondisi itu ternyata sempat membuatnya stress selama hampir 3 bulan.

"Selama tiga bulan itu, saya terus melakukan penyesuaian atas pekerjaan baru yang jenis pekerjaannya sangat berlawanan dengan watak peneliti yang cenderung bebas. Karena peneliti itu tidak punya atasan secara langsung. Usaha itu tidak mudah memang. Tetapi karena saya termasuk tipe orang yang suka belajar dan kerja keras, akhirnya dalam waktu tiga bulan semua tantangan itu bisa terlalui. Sekarang saya sudah lebih enjoy," tutur ayah tiga orang putri ini.

Karir Prof Dodi Nandika di Depdiknas dimulai tahun 2002 lalu sebagai Direktur Pembinaan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Ditjen Pendidikan Tinggi (Dikti). Setelah itu, karirnya menanjak sebagai Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Depdiknas. "Karena latar belakang pendidikan saya yang banyak di penelitian, saya menikmati sekali pekerjaan di litbang ini," kata Prof Dodi yang diangkat sebagai Sekjen Depdiknas sejak Mei 2005.

Sedangkan karir Prof Dodi Nandika di IPB dimulai dari bawah sebagai dosen. Baru pada tahun 1988 ia dipercaya sebagai sebagai Asisten Direktur Administrasi, Pusat Antar Universitas (PAU) Ilmu Hayat IPB. Karirnya terus meningkat dengan menjadi Asisten Direktur Program PAU, lalu diangkat sebagai Direktur PAU Ilmu Hayat IPB merangkap Ketua Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan, Program Pasca Sarjana IPB pada tahun 1999-2002.

"Setelah itu karir saya berkembang di Depdiknas," ucap Prof Dodi yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Penasehat Yayasan Pengembangan SDM Banten itu.

Prof Dodi menuturkan, perjalanan akademis maupun karirnya itu tak lepas dari didikan keras ayahnya, (alm) Ami Sukardi --Kepala Taman Nasional Ujung Kulon. Sejak kecil, ia sudah di setting sebagai ahli kehutanan. Sementara adik dan kakanya di setting agar cita-citanya sesuai dengan keinginan ayahnya. Karena itu setiap hari ayahnya "mencekoki" Dodi kecil dengan cerita-cerita yang tak jauh dari hal-hal yang berbau kehutanan dan konservasi alam.

"Ayah saya itu sangat otoriter. Waktu kecil saya seperti robot yang harus mengikuti apa yang diucapkan ayah. Mulai dari bangun pagi, makan, sekolah, pulang sekolah, belajar, mengaji hingga belajar lagi di malam hari begitu teratur. Keluar dari jalur yang sudah ditetapkan, saya pernah dirotan. Waktu itu saya bolos ngaji terus main bola, pulangnya ayah sudah menunggu di depan pintu dengan tangan memegang rotan," katanya.

Karena tidak ada kesempatan untuk bermain dengan teman sebaya, Prof Dodi mengaku, masa kecilnya ia sangat kuper (kurang pergaulan). Ia hanya punya teman main sebanyak 7 orang. Karena waktunya banyak dihabiskan untuk belajar, tak heran bila Prof Dodi cukup berprestasi di sekolah. "Saya berprestasi bukan karena pandai, tetapi karena saya paling banyak belajar dibanding teman-teman," kata Prof Dodi sambil bergurau.

Sikap keras ayahnya terlihat saat akan mendaftar di IPB, setiap calon mahasiswa mendapat kesempatan untuk menulis dua pilihan program studi. Ia diminta untuk menulis satu pilihan saja yaitu Fakultas Kehutanan saja. Pilihan lain dibiarkan kosong. "Untungnya saya diterima, kalau nggak habis riwayat saya," ujarnya.

Saat akan skripsi S-1, Prof Dodi mengaku kebingungan mengambil tema penelitian. Akhirnya dipilih soal rayap atas saran salah seorang dosennya. "Setelah itu, saya mulai jatuh cinta pada rayap. Begitupun saat saya mengambil program S-2 dan program doktor, yang tak jauh-jauh dari rayap. Karena ternyata rayap itu telah memberi saya limpahan materi, mengingat tak banyak orang yang menekuni binatang ini secara konsisten," kata suami dari Mimin Susiani itu.

Dua puluh lima tahun ber"gaul" dengan rayap, Prof Dodi menyebut banyak nilai-nilai yang bisa diambil manusia dari kehidupan rayap. Pertama, nilai kebersamaan. Rayap adalah serangga yang tergolong social insect dimana tidak bisa hidup sendirian. Karena tidak ada yang patut dibanggakan dari rayap yang bertumbuh sangat kecil, jalan sangat lambat, lembek dan buta.

"Tetapi hati-hati bila rayap sudah bersama, mereka bisa membentuk satu kekuatan untuk merusak tanah, kayu maupun pohon," ujarnya. Nilai kedua adalah disiplin. Karena para rayap itu bekerja sesuai dengan bidang kerjanya dan tepat waktu. Misalnya, rayap pekerja akan giat bekerja dan ratu rayap yang terus bereproduksi. Nilai ketiga adalah bela negara, khusus untuk rayap tentara yang berani mati untuk membela koloninya. Nilai keempat adalah rayap adalah pekerja keras. Tidak ada waktu bagi mereka untuk bermalas-malasan. Pembagian kerja dilakukan secara bergantian.


Dan nilai kelima adalah efisiensi. Rayap memakan bangsanya sendiri yang sedang sekarat sehingga tidak ada yang terbuang percuma. Sehingga tidak ada protein yang membusuk yang bisa mencemari lingkungan. Proteinnya diselamatkan para pekerja untuk energi lagi.

Pada musim tertentu, rayap menjadi laron dan beterbangan di bawah sinar lampu secara berpasang-pasangan. Setelah melepas sayapnya, pasangan rayap itu melakukan perkawinan dan mencari lokasi untuk membuat koloni. Bila dia berasal dari rayap kayu kering, biasanya sasarannya mencari kayu kering pula. Misalnya saja mebel. Dia masuk lewat retakan kecil mebel tadi. Rayap bisa masuk ke dalam rumah melalui fondasi atau kayu dinding rumah. Sedangkan laron yang berasal dari rayap tanah akan kembali ke tanah.

"Satu koloni rayap itu bisa mencapai jutaan ekor. Karena itu, jangan tertipu telah berhasil memberantas rayap di rumah, karena sebenarnya koloninya sudah berkembang men- capai jutaan ekor di dalam tanah. Namum, tidak perlu khawatir karena teknologi untuk memberantas rayap sudah demikian maju," tuturnya.

Saat ditanya apa yang akan dilakukan saat pensiunan, Prof Dodi akan tetap "menggeluti" rayap di laboratorium rayap miliknya hingga tidak mampu lagi. Hal lain adalah menulis buku, yaitu buku soal rayap dan biografi. Saat ini, Prof Dodi telah menulis buku berjudul "Rayap, Biologi dan Pengendaliannya" hasil penelitian bersama dua orang mahasiswa program doktornya, Yudi Rismayadi dan Farah Diba. "Di masa depan, saya ingin lebih banyak menulis buku," kata Ketua Dewan Pakar/Penasehat Ahli Ikatan Perusahaan Pengendalian Hama Indonesia itu. (Tri Wahyuni)

Tidak ada komentar: